STAIM TA Wajib Perkuat Responsif Gender

Diposting pada: 2016-01-25, oleh : staim, Kategori: Kegiatan STAIM

Yoyakarta (Diktis-) Salah satu tuntutan dalam peningkatan kualitas hidup manusia saat ini adalah keadilan dan kesetaraan gender, baik pada aspek akses, mutu dan relevansi. “Pengembangan program responsif gender di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) menjadi salah satu upaya untuk memutus mata rantai budaya bias gender”, demikian dijelaskan sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Prof. Dr. M Ishom Yusqi pada kegiatan Temu Konsultasi Jaringan PSW/PSGA di Yogyakarta, Rabu (11/11).

Agenda ini hanya di hadiri oleh 50 peserta dari PTKIN maupun PTKIS Se-Indonesia yang berlangsung selama 3 hari mulai 10 s/d 12 Nov 2015 di Hotel Plaza Yogyakarta, dan STAI Muhammadiyah Tulungagung (red:STAIM TA) salah satu dari 50 peserta tersebut, Ketua STAIM TA Cand (Dr.) Nurul Amin, M.Ag sangat bangga, karena 2 tahun belakang ini nama kampus selalu muncul dalam level skala nasional, hal itu dipertegas dalam pernyataannya, “Alhamdulillah nama STAIM TA selalu muncul dan se-level dengan kampus-kampus besar negeri sekelas UIN dan IAIN dalam kancah nasional, itu semua berkat kerja keras para dosen dan staff, para dosen yang mampu berpartisipasi dalam kegiatan apapun yang diagendakan oleh Diktis, semisal peneltian, pengabdian masyarakat, publikasi ilmiah, pembicara di pertemuan-pertemuan ilmiah, dll. Saya berharap ini menjadi motivasi bagi yang lain, sehingga pengkaderan terus berjalan dan semakin meningkat ke level Internasional”. Demikian dijelaskan rektor/ketua PTKIS muda ini.

Adapun yang dikirim dari STAIM pada agenda ini Ibu. Yuanovita Prihatianti Fitria, M.Pd.I, dosen muda, aktif dan energik ini adalah anggota bidang I Gender di STAIM TA, ketua berharap sekembalinya dari tugas ini nanti membawa ilmu baru yang wajib disampaikan dan direalisasikan kepada para Dosen.

Menurut Ishom, ada beberapa produk peraturan perundang-undangan yang memihak dalam pengarusutamaan gender (PU). “Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pengarusutamaan gender merupakan salah satu prioritas nasional”, ungkap Sesditjen.

“RPJMN fokus pada tiga isu atau kebijakan nasional terkait pengarusutamaan gender, yaitu peningkatan kualitas hidup dan peran perempuan dalam pembangunan, perlindungan perempuan terhadap berbagai tindak kekerasan dan peningkatan kapasitas kelembagaan PUG dan pemberdayaan perempuan”, tambahnya.

Dalam konteks PTKI, pengarusutamaan gender juga harus ditingkatkan. “Perlu langkah afirmatif dalam upaya meningkatkan program-program responsif gender di lingkungan PTKI. Untuk itu, tahun 2016, saya berharap dana Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) dapat disisipkan untuk program pengarusutamaan gender di PTKI”, harap sesditjen yang pernah menjabat Kasubdit Ketenagaan Diktis.

Program-program dari penguatan studi gender dan anak, lanjut Ishom, harus mempunyai arah yang jelas dalam meningkatkan daya saing PTKI. “Setiap pusat studi gender dan anak di lingkungan PTKI harus mempunyai jejaring yang luas agar bisa menjadi mitra dalam melaksanakan program dan kegiatan yang dilakukan”, demikian tambah guru besar IAIN Ternate itu.

Sementara Kasubdit Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Dr. Mamat S Burhanuddin menyampaikan bahwa kegiatan Temu Konsultasi Jaringan PSW dan PSGA di lingkungan PTKI menjadi langkah awal dalam penguatan paradigma kesetaraan gender. “Kami mempunyai tujuan besar dalam penguatan responsif gender di PTKI. Selama ini, ada kesan bahwa PTKI kurang optimal dalam persoalan responsif gender. Karena itu, forum ini menjadi relevan untuk bersama-sama mereaktulisasi mainstreaming gender di PTKI”, ungkap Mamat.

Untuk mendiskusikan tentang penguatan gender, Diktis menghadirkan beberapa narasumber pakar dari pelbagai kalangan. Dari kalangan akademisi, Dr. Phil. Syafiq Hasyim membahas pentingnya isu gender dalam tradisi akademik di PTKI. Sementara dari tokoh agama, KH. Husein Muhammad, menyampaikan tentang keulamaan perempuan di Indonesia. Sedangkan untuk persoalan kebijakan perlindungan kepada anak, Diktis mengundang Ketua Devisi Penelaahan KPAI Komisioner, Dr. Titik Haryati. (wild-n, dengan sedikit tambahan oleh admin STAIM TA)

Sumber: Website diktis kemenag RI.


Print BeritaPrint PDFPDF


Tinggalkan Komentar Anda


Nama*
Email* Tidak akan diterbitkan
Url  Ketik tanpa http:// exp:pendidikanonline.com
Komentar*
security image
 Masukkan kode diatas
 

Ada 0 komentar untuk berita ini


© 2018 STAI MUHAMMADIYAH TULUNGAGUNG. Powered by Formulasi Free Opensource CMS | Hosting Sekolah